TASYAKURAN SUKSES MUKTAMAR KE-35, H. BAHAUDDIN UNGKAP RASA SYUKUR DAN TEGASKAN SEBAGAI RAIS SYURIAH PWNU YANG SAH
MEDAN – Usai pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang berlangsung sukses di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, dan pengumuman struktur PBNU pada 30 September 2026 untuk masa khidmat 2026–2031, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU serta PCNU se-Sumatera Utara menggelar tasyakuran di Aula Hotel Almunawwarah Asrama Haji Medan, Senin (12/10/2026).
Tasyakuran dipimpin langsung oleh Rais Syuriyah PWNU Sumatera Utara, K.H. Bahauddin Nasution, Lc. Hadir unsur Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU lainnya, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU se-Sumatera Utara, serta sejumlah Badan Otonom.
Ungkapan Syukur dan Seruan Menjaga Kesolidan
Dalam sambutannya, K.H. Bahauddin menyampaikan rasa syukur atas suksesnya Muktamar ke-35 sebagai forum tertinggi NU yang telah menetapkan sejumlah keputusan dan memilih pimpinan PBNU masa khidmat 2026–2031.
Ia juga berterima kasih kepada seluruh jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU se-Sumatera Utara yang hadir serta tetap menjaga kesolidan sejak sebelum muktamar hingga hari ini. Ia meminta kekeluargaan dan kesolidan tersebut terus dipertahankan untuk memperkuat dan membesarkan NU di Sumatera Utara.
Tegaskan Posisi sebagai Rais Syuriyah PWNU yang Sah
Pada kesempatan itu, K.H. Bahauddin menyampaikan perlakuan yang menurutnya tidak baik dan tidak benar yang ia terima dari Ketua PWNU Sumatera Utara. Ia mengaku bersedih, namun selama ini memilih diam.
"Mungkin kita semua sudah tahu bahwa saya diberhentikan melalui forum yang melanggar peraturan organisasi. Sedikit pun tidak pernah terlintas di pikiran saya untuk melepaskan amanah sebagai Rais Syuriyah PWNU Sumut," ujarnya.
Menurutnya, alasan bahwa dirinya terpilih sebagai Rais PCNU Mandailing Natal telah terbantahkan dengan terpilihnya Ustadz Hasrin Nasution sebagai Rais PCNU Mandailing Natal. Ia juga mengaku sakit hati dan malu karena nama K.H. Abdul Hamid Ritonga dipampangkan sebagai Rais Syuriyah melalui baliho, videotron, dan pengumuman kepada PCNU serta khalayak, sementara dalam SK PBNU serta surat-surat resmi ke PBNU, yang tercantum dan menandatangani adalah dirinya, H. Bahauddin Nasution, sebagai Rais PWNU Sumut.
"Namun saya tetap sabar dan memohon petunjuk kepada Allah SWT agar menunjukkan kebenaran, sebab saya yakini kebenaran datangnya dari Allah, bukan dari seseorang," tuturnya.
Dampak bagi PWNU Sumatera Utara
K.H. Bahauddin menilai tindakan tersebut arogan dan su'ul adab, serta berdampak buruk bagi PWNU Sumatera Utara.
Kepesertaan PWNU di muktamar menjadi tidak diakui dan usulan ahwa tidak diterima karena muncul dua versi kepengurusan. Kondisi ini, menurutnya, menimbulkan hilangnya kepercayaan PCNU dan pengurus NU lainnya terhadap kepemimpinan PWNU Sumatera Utara, sehingga roda organisasi hingga kini tidak berjalan dengan baik.
"Kondisi ini tidak dapat dibiarkan berlarut-larut," tegasnya.
Sikap Syuriyah: Mohon Tindakan Tegas PBNU
Secara pribadi, K.H. Bahauddin menyatakan memaafkan. Namun secara organisasi, ia menyebut ada mekanisme yang akan diambil oleh pimpinan tertinggi, yakni PBNU.
Bersama jajaran Syuriyah PCNU se-Sumatera Utara, ia menyampaikan sikap agar PBNU memberikan tindakan tegas kepada Ketua PWNU Sumatera Utara demi menjaga marwah NU, kelancaran agenda organisasi, dan kebaikan PWNU Sumatera Utara.






0 Komentar